Poskaltim.id, Samarinda — Prosesi adat tepung tawar menjadi syarat penyambutan selamat datang di Kantor Gubernur Kaltim dengan harapan pimpinan mendapat keberkahan dan perlindungan dalam melaksanakan tugasnya hingga 2030.
Prosesi tepung tawar kepada Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji dilakukan langsung oleh sesepuh Kesultanan Kutai Kartanegara Adji Pangeran Haryo Kusuma Poeger bertempat di teras Kantor Gubernur Kaltim, pada Senin (3/3/2025).
Tepung tawar adalah tradisi berharap semangat dan keberkahan dalam semua pekerjaan. Tradisi tepung tawar ini terbuat dari bedak beras kuning yang dicampur sedikit air. Tepung tawarvdiberikan mulai dari punggung dan kedua telapak tangan, kepala dan pundak kiri-kanan serta kedua kaki.
Selanjutnya prosesi tepung tawar, Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji menarik “Ketika Lepas” yang terbuat dari janur kuning kelapa). Tradisi ini bermakna dan niat menjadi Gubernur dan Wagub Kaltim sudah tercapai, sekaligus menghilangkan atau melepas segala bala atau bencana.
Taburan Beras Kuning
Setelah mengikuti prosesi tepung tawar, Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji masuk ke dalam kantor Gubernur Kaltim yang beralamat di Jalan Gajah Mada No. 1 Samarinda dan diterima Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni. Turut menyambut asisten, kepala biro dan seluruh kepala perangkat daerah Pemerintah Provinsi Kaltim hingga menuju Ruang Serba Guna Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim.

Sebelum masuk ruangan, Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji didampingi Sekda Provinsi Kaltim Sri Wahyuni dan H Adji Pangeran Haryo Kusuma Poeger menyaksikan Tari Topeng Wirun khas Kesultanan Kutai Kartanegara persembahan Yayasan Sangkoh Paitu dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Setelah itu, Gubernur Rudy Mas’ud menuju Ruang Ruhui Rahayu, sebuah aula besar untuk memimpin acara rapat pimpinan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kaltim.
Sementara itu, H. Adji Pangeran Haryo Kusuma Poeger menjelaskan makna dari prosesi Tepung Tawar merupakan tradisi adat Kutai yang dilaksanakan sejak berdirinya kerajaan Kutai Kartanegara.
“Apabila seorang raja (penjabat) masuk ke arena dipadukan dengan senenan (gamelan). Bagaimana merdu suara gamelan, begitu juga diharapkan pemimpin dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Adat dan tradisi tepung tawar ini akan terus dilestarikan sebagai adat budaya di Benua Etam,” ungkap Adji Pangeran Haryo Kusuma Poeger.(yul/adpimprovkaltim)