Poskaltim.id, Samarinda — Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada periode Mei 2026 tetap terkendali. Tingkat inflasi ini terus terjaga karena komitmen para pemangku kepentingan dalam menjaga pengendalian inflasi di bumi Etam, Kalimantan Timur.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan mengatakan Provinsi Kaltim pada Mei 2026 mencatat inflasi sebesar 0,17% (mtm). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,11% (mtm)
”Langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di wilayah Kaltim dengan implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif),” ujarnya pada Selasa (2/6/2026).
Ditambahkannya, pada aspek keterjangkauan harga, selama Mei 2026 TPID telah melaksanakan 60 kegiatan Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, dan kegiatan stabilisasi harga lainnya yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Kaltim.
Kegiatan tersebut antara lain dilaksanakan di Kota Samarinda, Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Mahakam Ulu, dan Kota Bontang. Pada aspek ketersediaan pasokan, TPID terus mendorong penguatan pemantauan stok dan kesiapan pasokan komoditas strategis, khususnya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha.
Pada aspek kelancaran distribusi, TPID memperkuat koordinasi antarwilayah guna memastikan kelancaran rantai pasok dan memitigasi potensi hambatan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga.
Sementara itu, pada aspek komunikasi efektif, TPID Provinsi Kalimantan Timur secara rutin melaksanakan rapat koordinasi mingguan, serta menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) TPID Kota Samarinda dalam rangka penguatan kesiapan pengendalian inflasi menjelang Idul Adha 2026.
”TPID terus memperkuat komunikasi publik melalui penyampaian informasi ketersediaan pasokan, perkembangan harga, serta imbauan belanja bijak kepada masyarakat, guna menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali dan mencegah perilaku konsumsi berlebihan menjelang HBKN,” ujarnya.
Dijelaskan Jajang, secara umum, tekanan inflasi Mei 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi, seiring kenaikan harga angkutan udara dan bensin yang dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan avtur.
Pada periode laporan, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dex, dan Dexlite meningkat rata-rata sekitar 9%. Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran turut memberikan andil inflasi, sejalan dengan masih tingginya aktivitas konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada komponen volatile foods yang tercatat sebesar -1,09% (mtm), mencerminkan membaiknya pasokan dan normalisasi harga sejumlah komoditas pangan strategis.
Deflasi terutama bersumber dari penurunan harga daging ayam ras, kangkung, dan ikan tongkol. Berdasarkan komoditas, inflasi Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh angkutan udara, beras, minyak goreng, solar, dan sewa rumah.
”Sementara itu, komoditas yang menahan inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan layang/benggol, kangkung, dan bahan bakar rumah tangga,” ujar Jajang.(yul/hms/bi-kaltim)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan