Aplikasi Lentera, Inovasi Digital untuk Menjaga Senja Orang Tua Kita

Oleh: Taufiqurrahman

SETIAP garis di wajah para lanjut usia menyimpan kisah panjang perjalanan hidup. Namun, seiring berjalannya waktu, tubuh mereka tak lagi sama. Dalam dunia medis, penuaan kerap datang membawa penyakit yang tak tunggal—mulai dari tekanan darah tinggi hingga gangguan jantung. Untuk bertahan dan menyambung hari dengan nyaman, tak jarang piring kecil atau genggaman tangan orang tua kita diisi oleh sederet obat yang harus diminum saban hari.

Di balik niat untuk menyembuhkan, tumpukan resep itu menyimpan risiko yang sering kali luput dari pandangan: interaksi obat dan efek samping yang mengintai tubuh rentan mereka.

Melihat realitas tersebut, sebuah langkah kepedulian lahir dari bumi Kalimantan Timur. Berangkat dari kesadaran bahwa keselamatan para senior kita adalah prioritas, kolaborasi riset antara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur dan Universitas Mulawarman menghadirkan secercah harapan baru. Melalui Program Kolaborasi Riset dan Inovasi Strategis (KRIS) 2026, mereka merajut inovasi bertajuk digitalisasi farmakovigilans khusus bagi kelompok lansia.

“Interaksi obat dan efek samping dari obat-obatan, terutama pada lansia, itu bisa dipantau dengan lebih maksimal sehingga pencegahan terhadap kejadian tersebut juga bisa dilakukan lebih dini. Salah satu hal yang ingin kami lakukan untuk meningkatkan pelaporan tersebut, terutama pada lansia, adalah dengan memperkuat sistem pemantauan keamanan terapi dan mendukung peningkatan keselamatan pasien,” tutur Dr. apt. Victoria Yulita Fitriani, M.Farm-Klin., periset utama dalam program ini.

Selama ini, para apoteker di benteng terdepan kesehatan—seperti puskesmas—sering kali berkejaran dengan waktu dan tumpukan lembaran kertas laporan manual. Keraguan dalam mengidentifikasi apakah rasa tak nyaman yang dialami seorang nenek disebabkan oleh efek samping obat atau faktor penyakitnya sendiri, kerap menjadi celah yang tak terlaporkan.

Dari sana, lahirlah aplikasi bernama Lentera. Sesuai namanya, aplikasi digital ini hadir menjadi pemandu yang menyinari ruang-ruang remang pemantauan obat. Dengan sistem terintegrasi yang sederhana, cepat, dan ramah pengguna, para apoteker dan tenaga kesehatan kini memiliki pegangan yang presisi untuk mendeteksi, mencatat, dan memvalidasi setiap dugaan efek samping obat yang dirasakan pasien lansia secara real-time.

Inovasi ini bukan sekadar urusan koding atau tumpukan data ilmiah di atas kertas. Kehadiran Lentera yang dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan modul pelatihan digital ini adalah wujud nyata kasih sayang intergenerasi. Sebuah kepedulian kolektif untuk memastikan bahwa masa-masa senja para lansia di Kalimantan Timur dapat dilalui dengan rasa aman, tenang, dan penuh martabat. (*/Red)

About Redaksi

Check Also

Diskominfo Kaltim Dorong TTE Sebagai Kunci Transformasi Administrasi Digital

Poskaltim.id, Samarinda – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) secara agresif mendorong …

IMEI, Perlindungan Ekstra Agar Ponsel Curian Tak Laku Dijual

Poskaltim.id, Jakarta – Di tengah isu yang beredar luas, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluruskan wacana …