Melalui rolled paper technique, lembar HVS bekas dipilin dan dirangkai menjadi karya dekoratif interior.
Poskaltim.id, Samarinda — Kertas HVS bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah berubah menjadi hiasan dinding di tangan siswa SMK TI Labbaika Samarinda.
Perubahan itu terjadi dalam pelatihan yang digelar tim pengabdian kepada masyarakat Jurusan Desain, Prodi Desain Produk Kayu dan Serat, Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) bertempat di aula sekolah, pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Pengembangan Produk Dekorasi Interior Berbasis Limbah Kertas dengan Rolled Paper Technique” ini dipimpin Dita Andansari, S.T., M.Ds., bersama Fitriyani Arifin, S.Ds., M.Sn., dan Ramadhan S. Pernyata, M.Ds., serta melibatkan mahasiswa Jurusan Desain. Sedangkan peserta yang mengikuti pelatihan sekitar 34 siswa yang mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir.
Dita Andansari, S.T., M.Ds menjelaskan kertas termasuk penyumbang sampah terbesar di Indonesia. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mencatat kertas dan karton menyumbang sekitar 11,4 persen dari komposisi sampah nasional pada 2025. Di sekolah, sumbernya mudah ditemukan, mulai dari lembar soal, fotokopian, hingga tugas yang tak lagi terpakai.
“Kertas HVS bekas masih punya karakter yang bagus. Mudah dipotong, digulung, dan dibentuk. Lewat pelatihan ini kami ingin siswa melihat sampah kertas sebagai bahan baku yang bisa diolah menjadi produk bernilai,” ujar Dita.
Menurutnya, teknik yang diajarkan tergolong sederhana. Kertas dipotong dengan ukuran seragam, lalu digulung rapat mengelilingi lidi hingga membentuk batang kertas berongga. Batang-batang pilinan itu kemudian dipotong dan direkatkan dengan lem mengikuti pola gambar, sehingga menghasilkan karya bergaris tegas.
Menurut Fitriyani, salah satu dosen yang memberikan pelatihan menjelaskan teknik ini berbeda dengan paper quilling yang lebih dulu dikenal.
Quilling menggulung pita kertas sempit menjadi spiral kecil untuk mengisi bidang, sedangkan rolled paper technique menghasilkan batang yang membentuk kontur. “Teknik ini lebih cepat dikuasai pemula, dan bentuknya langsung terbaca. Quilling bisa menjadi tahap lanjutan,” katanya.
Tim juga mengenalkan sejumlah ide pengembangan, seperti mewarnai pilinan, mencoba pola lain, dan menyusun beberapa karya menjadi satu komposisi hiasan kelas. Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kepedulian siswa terhadap pengelolaan sampah sekaligus mengasah kreativitas mereka di bidang desain produk.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang praktik. Di akhir sesi, mereka menunjukkan karya yang telah dipasang dalam bingkai, mulai dari motif bintang geometris, burung, kupu-kupu, bulan sabit, hingga kucing. Karya tersebut dapat dipajang sebagai hiasan dinding di kelas maupun di rumah.

Guru SMK TI Labbaika Samarinda, menilai pelatihan ini memperlihatkan sisi kreatif siswa yang selama ini belum banyak terlihat di sekolah.
Peserta tidak hanya berasal dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), tetapi juga dari jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi serta Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis. “Dari situlah mereka berkolaborasi dan menjadi siswa yang kreatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, siswa kini mampu membuat produk dari limbah yang dapat diberikan kepada orang lain, dikoleksi, atau bahkan menjadi hobi baru.
“Sekolah juga mendapat manfaat, karena kami melihat bahwa kertas bekas bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai,” katanya.(yul/adv)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan