Perkuat Kepercayaan Diri Siswa melalui Metode Eye Contact, Voice, dan Body Language
Poskaltim.id, Samarinda — Kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama dalam menghadapi dunia pendidikan lanjutan maupun dunia kerja.
Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi pada Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Samarinda melaksanakan kegiatan Pengabdian Penugasan Prodi berupa Pelatihan Public Speaking dengan metode EVB (Eye Contact, Voice, dan Body Language) di SMK SPP Samarinda.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 2 September 2026 oleh Heldina Pristanti, S.Pd., M.Pd., Dyah Kusrihandayani, S.E., M.M., dan Drs. Suminto, M.Hum., M.Pd. B.I. sebagai bagian dari upaya perguruan tinggi memberikan kontribusi nyata dalam penguatan kompetensi komunikasi peserta didik.
“Pelatihan dirancang dengan pendekatan praktis dan interaktif. Siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konsep public speaking, tetapi juga secara langsung mempraktikkan teknik berbicara, mengelola suara, menggunakan bahasa tubuh, melakukan kontak mata, serta menyampaikan pesan secara terstruktur,” tutur Heldina Pristanti.
Dijelaskannya, materi pelatihan menekankan bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara dalam jumlah banyak. Hal yang lebih penting adalah kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, terstruktur, mudah dipahami, dan mampu melibatkan audiens.
Salah satu fokus utama pelatihan adalah metode EVB, yaitu Eye Contact, Voice, dan Body Language. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting agar komunikasi seorang pembicara dapat berlangsung secara efektif.
Pada aspek Eye Contact, siswa dilatih untuk membangun keterlibatan dengan audiens melalui kontak mata. Peserta diperkenalkan dengan pola melihat audiens dari sisi kiri, tengah, hingga kanan secara bergantian. Teknik tersebut membantu pembicara terlihat lebih percaya diri sekaligus membuat audiens merasa diperhatikan. PPT_Public_Speaking_EVB_SMK_SPP…
Sementara itu, aspek Voice menekankan kemampuan mengelola suara melalui volume, tempo, artikulasi, intonasi, jeda, dan penekanan. Siswa dilatih agar mampu menghindari cara berbicara yang monoton serta memberikan penekanan pada informasi penting. Jeda satu hingga dua detik juga diperkenalkan sebagai teknik untuk memberikan kesempatan kepada audiens memahami pesan.
Aspek ketiga adalah Body Language. Siswa diberikan pemahaman bahwa bahasa tubuh dapat memperkuat pesan yang disampaikan. Postur tubuh yang tegak, bahu rileks, kaki stabil, gestur yang sesuai, ekspresi yang selaras, serta gerakan yang tidak berlebihan menjadi bagian dari latihan.
Belajar melalui Praktik dan Simulasi
Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang tidak kaku, pelatihan dilengkapi berbagai aktivitas praktik. Salah satunya adalah ice breaking “3 Detik Berani”, ketika siswa diminta berpasangan dan melakukan kontak mata selama tiga detik sebelum memperkenalkan diri dan menyampaikan hal yang membuat mereka percaya diri.
Siswa juga mengikuti latihan voice melalui aktivitas “Satu Kalimat, Tiga Versi”. Dalam latihan tersebut, peserta menggunakan kalimat yang sama tetapi menyampaikannya dengan variasi volume, tempo, intonasi, dan jeda. Tujuannya agar siswa memahami bahwa cara penyampaian dapat memengaruhi perhatian dan pemaknaan audiens.
Selain itu, terdapat latihan tongue twister untuk melatih artikulasi serta tantangan berbicara selama 30 detik. Dalam tantangan tersebut siswa memilih topik sederhana seperti makanan favorit, hobi, sekolah, cita-cita, atau kegiatan organisasi, kemudian menyampaikannya dengan menerapkan ketiga unsur EVB secara bersamaan.
Dilatih Berbicara Terstruktur dan Menerima Feedback
Pelatihan juga membekali siswa dengan struktur sederhana dalam menyampaikan sebuah pesan, yaitu Opening – Message – Closing. Pada bagian pembukaan, siswa diarahkan untuk menarik perhatian audiens, memperkenalkan topik, menjelaskan alasan pentingnya topik, dan memberikan gambaran mengenai isi pembicaraan.
Pada sesi mini speech, siswa diberikan kesempatan berbicara selama 60 detik dengan tema “Saya & Masa Depan Saya”. Mereka diminta memperkenalkan diri, menyampaikan keterampilan yang ingin dikuasai serta cita-cita atau target, kemudian menutupnya dengan satu pesan yang ingin diingat oleh audiens.
Menariknya, proses pembelajaran juga menggunakan EVB Scorecard, sehingga siswa tidak hanya menjadi pembicara tetapi juga belajar menjadi evaluator. Teman sebaya memberikan penilaian terhadap kontak mata, kualitas suara, dan bahasa tubuh dengan skala yang terstruktur.
Feedback yang diberikan pun diarahkan agar bersifat spesifik dan konstruktif. Peserta tidak cukup mengatakan “bagus”, tetapi diarahkan memberikan pujian berdasarkan aspek tertentu dan memberikan saran perbaikan yang dapat langsung dipraktikkan kembali oleh pembicara.
Mempersiapkan Siswa Menghadapi Dunia Kerja
Keterampilan public speaking memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan siswa SMK. Kemampuan tersebut dapat digunakan ketika melakukan presentasi tugas dan laporan praktik, memimpin kegiatan organisasi atau OSIS, menjadi MC atau moderator, menyampaikan ide dan program kerja, mengikuti wawancara PKL maupun pekerjaan, serta berkomunikasi dengan guru, mitra, pelanggan, dan masyarakat.
Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan agar siswa mampu berbicara di depan kelas, tetapi juga membangun keberanian, kemampuan menyampaikan gagasan, keterampilan komunikasi interpersonal, dan kesiapan menghadapi situasi profesional.
Pada bagian akhir, siswa mengikuti Final Challenge – 1 Menit Berbicara dengan tema “Satu perubahan yang ingin saya lakukan di sekolah.” Peserta ditantang menggunakan seluruh unsur EVB, mulai dari pembukaan yang menarik, penyampaian dua hingga tiga gagasan utama, hingga penutupan yang kuat.
Melalui kegiatan ini, Jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Samarinda menunjukkan komitmennya dalam menjalankan fungsi pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat melalui penguatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Pelatihan EVB diharapkan menjadi pengalaman praktis bagi siswa SMK SPP Samarinda untuk berani memulai, berlatih, menerima masukan, memperbaiki diri, dan tampil lebih percaya diri dalam berbagai situasi komunikasi. Pesan tersebut sejalan dengan penutup materi pelatihan: “Berani mulai, berlatih, perbaiki, ulangi.(*/yul/adv)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan