Dari Komedi, Misteri Uang, hingga Kampanye Anti-Perundungan dalam Bahasa Daerah

Poskaltim.id, Kab. Semarang — Ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 menjadi pembukti bahwa bahasa daerah tetap relevan dan dinamis di tangan generasi muda. Sebanyak 560 peserta dari 35 kabupaten/kota memamerkan kebolehan berbahasa Jawa dengan mengemas beragam isu kekinian, mulai dari komedi tunggal, cerita misteri, hingga kampanye pencegahan perundungan (bullying).

Melalui Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 867/sipers/A6/X/2026, kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah pada 9–11 Oktober 2026 di Kabupaten Semarang ini melibatkan 490 murid jenjang SD dan SMP serta 70 pendamping.

Dalam gelaran tersebut, para siswa menunjukkan bahwa bahasa Jawa bukan sekadar materi pelajaran di sekolah atau warisan orang tua, melainkan media berekspresi yang segar dan bermakna.

Ricky Wahyu Ramadan, siswa SMP dari Kota Magelang yang berlaga di kategori komedi tunggal (ndhagel ijen), membawakan cerita jenaka seputar daerah asalnya di Kaliangkrik, lereng Gunung Sumbing. Melalui lelucon lokal tentang sayuran wit onclang, Ricky sukses menghibur audiens sekaligus mempromosikan potensi daerahnya.

Jaya Krishna, siswa SMP Negeri 4 Magelang, berhasil meraih juara pertama tingkat kabupaten lewat cerita pendek (cerkak) berjudul Wewadi (Misteri). Cerita sepanjang tiga halaman tersebut mengisahkan misteri penemuan uang tanpa pemilik dengan pesan moral agar tidak mengambil hak orang lain.

Nafisha Aurelia Putri Aldrin, siswi kelas VII SMP Negeri 1 Kota Magelang, memanfaatkan lomba pidato (sesorah) untuk menyuarakan isu kritis remaja, yakni perundungan. Ia memadukan pidatonya dengan tembang macapat untuk mengajak teman sebaya saling peduli dan mencegah bullying.

Keberhasilan para peserta tidak lepas dari peran para pendamping. Mukhtarus Shihah, guru pendamping dari SMP Negeri 1 Jepara, mengungkapkan tantangan dalam membimbing siswa, terutama pada kemampuan menulis dan membaca aksara Jawa. Meski membutuhkan ketekunan ekstra, proses ini dinilai efektif membuka potensi tersembunyi para siswa.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengapresiasi tinggi kreativitas anak-anak yang tampil pada FTBI 2026. Menurutnya, pemeliharaan bahasa ibu merupakan fondasi penting dalam menjaga keutuhan budaya Indonesia.

“Melestarikan bahasa daerah adalah bagian dari kita merawat keindonesiaan kita,” tegas Menteri Abdul Mu’ti dalam siaran pers Kemendikdasmen.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, turut menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Semarang dan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) atas kolaborasi penyelenggaraan acara. Balai Bahasa Jateng juga menyerahkan piagam penghargaan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota atas komitmen mereka, serta meluncurkan inovasi digital seperti kamus Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja) dan aplikasi Sistem Adaptif Belajar Bahasa Daerah (SABDA).(Sumber berita dan foto: Kemendikdasmen)

About Redaksi

Check Also

Dosen TRK POLNES Implementeasikan Pengelolaan Tanaman Berbasis Otomatisas di Kelompok Tani Karya Sejahtera Kukar

Poskaltim.id, Samarinda — Dosen Teknologi Rekayasa Komputer Politeknik Negeri Samarinda (TRK POLNES)  memberikan Pendampingan dan …

Tingkatkan Literasi Keuangan Generasi Muda, Jurusan Akuntansi Polnes Gelar Sosialisasi Pencegahan Investasi Bodong di SMKN 8 Samarinda

Poskaltim.id, SAMARINDA – Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan sejak dini sekaligus membentengi generasi muda dari …