KETERBATASAN infrastruktur bukan berarti memadamkan api semangat pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sebuah potret nyata pengabdian datang dari Risky Jalil, seorang guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari kondisi paling minim sekalipun.
Sejak 2024, Risky berhadapan dengan tantangan yang tidak mudah. Mulai dari deburan ombak keras saat menuju sekolah hingga minimnya akses internet dan buku. Namun, keterbatasan alat peraga tidak membuatnya menyerah.
“Untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ungkap Risky dalam keterangan resminya, Kamis (19/2).
Menyadari beratnya tantangan para pendidik seperti Risky, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan terus memperkuat dukungan nyata. Salah satu kebijakan strategisnya adalah penyaluran Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa pada tahun 2025 saja, pemerintah telah menyalurkan anggaran sebesar Rp636,7 miliar untuk 43.393 guru penerima TKG. Angka ini setara dengan Rp2 juta per bulan bagi setiap guru guna meningkatkan motivasi dan kesejahteraan mereka di daerah terpencil.
“Cerita praktik baik para guru di wilayah 3T adalah bukti keterbatasan bukan penghalang. Pemerintah memastikan dukungan lebih merata, mulai dari kompetensi hingga teknologi seperti Papan Interaktif Digital,” tegas Nunuk Suryani.
Bagi Risky Jalil, mengajar di daerah 3T bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membangun kepercayaan diri murid. Ia sering mengaitkan materi pelajaran dengan cita-cita siswanya dan memberikan apresiasi sekecil apa pun.
Menurutnya, dukungan finansial seperti TKG sangat membantu stabilitas proses belajar-mengajar. Namun, dukungan emosional dari masyarakat sekitar juga tak kalah penting. Kolaborasi orang tua yang memastikan anak hadir tepat waktu menjadi kekuatan tambahan bagi para pendidik.
“Saya sangat berharap ada pemerataan kualitas pendidikan, baik dari segi fasilitas maupun akses teknologi. Semoga murid di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” harapnya.
Transformasi pendidikan di pelosok negeri ini terus diperkuat melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta dukungan masyarakat, demi mewujudkan sumber daya manusia unggul yang merata di seluruh Indonesia.(tr/BKHM-KPDM)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan