Catatan: Muhammad Asran
(Pemerhati Sejarah di Balikpapan)
PADA awalnya jalan poros yang menghubungkan Samarinda dengan Balikpapan dengan membelah Kabupaten Kutai Berjarak 115 Km disebut Jalan Rusia.
Kenapa bisa disebut Jalan Rusia…?
Begini ceritanya, dalan penelusuran sejarahnya, jalan Rusia saat ini Jalan Poros Soekarno Hatta, berawal dengan pembangunan dan pembukaan ruas jalan poros, yaitu Proyek Jalan Kalimantan (Projakal) seperti jalur Palangkaraya – Tangkiling ( Cilik Riwut) dan Balikpapan – Samarinda. Dimana pembukaan Jalan Poros Balikpapan – Samarinda, di bangun oleh Teknisi Uni Soviet ( Rusia) pada masa era Presiden Soekarno di era tahun 1960-an. Dimulainya Proyek Jalan Kalimantan (Projakal).
Pembangunan jalan Poros Balikpapan – Samarinda yang masuk Projakal, mendatangkan teknisi khusus berasal dari Rusia, yang ahli dalam struktur jalan untuk tanah gambut, seperti menggali dan menguruk dan menimbun dengan batu dan pasir, yang menghasilkan jalan sangat kokoh dan tahan lama.
Kemudian pihak Rusia mengerahkan armada berupa Truck Rusia dengan beberapa tipe sesuai dengan Medan yang diperuntukan. Truck ZIL TIPE 154 K, 157 K, 164 K serta ada beberapa tipe lainya, untuk mendukung kegiatan di kalangan. Truck yang di datangkan itu bermesin 6 Silinder dengan kekuatan 5555 CC, stang stir kiri dan Sistem Engkol.

Membangun Direksi Keet di kawasan km 18 Karang Joang Balikpapan. Sedangkan kantor Induk Projakal berada di Km I Balikpapan.
Sebelum Projek Jalan Poros Balikpapan – Samarinda di mulai, yang merupakan bagian kerjasama antara Indonesia – Uni Soviet di bawah pemerintahan Presiden Soekarno, untuk membangun Infrastruktur di Kalimantan pada awalnya.
Sebelum dilaksanakan kegiatan Projakal, Balikpapan – Samarinda, di dahului dengan kedatangan KASAD Jenderal Abdul Haris Nasution ( AH. Nasution), yang mengemban dua mudi sekaligus pada tahun 1961.
Kedatangan Jenderal AH Nasution, di Balikpapan, selain untuk melihat langsung kondisi Para Transmigrasi pertama di Km 18, asal Pulau Jawa yang menempati kawasan Karang Joang, serta akan melakukan Survei bersama para Insinyur Rusia, untuk pembukaan projek Jalan Balikpapan – Samarinda. Berjalan kaki dari Km 18 hingga Km 48, dengan menyusuri hutan. Pada saat itu KASAD ditemani Panglima Komando Daerah Militer VI Mulawarman, Brigjend Soehario Padmodiwirio.
Setelah itu tidak lama kemudian Projek berjalan dan beberapa tahun kemudian meletus G30S/PKI, dan berimbas kepada kegiatan dan berdampak pada hubungan Indonesia Uni Soviet. Pembangunan Jalan Poros Balikpapan – Samarinda, terhenti. Hal itu disebabkan para tenaga ahli dan Insinyur Rusia pulang ke negaranya. Akibatnya projek terhenti sejak 1965-1966.
Setelah rezim Orde lama tumbang, berganti ke Orde Baru di bawah kendali Jenderal Soeharto, kemudian projek Balikpapan – Samarinda berlanjut hingga tahun 1975 dapat diselesaikan.
Namun Jalan poros Balikpapan – Samarinda, sendiri baru bisa diresmikan, pada Hari Rabu, 20 Juli 1977, oleh Presiden Soeharto, dengan penekanan tombol serta membubuhkan tanda tangan di Sebuah Porselin Hitam, yang kemudian verfutikah sebuah Tugu Projakal, di persimpangan Km 4,8 Balikpapan Utara, atau persisnya dekat dengan Kawasan Pasar Buton, Balikpapan Utara saat ini.
Dengan diresmikannya Jalan Poros Balikpapan – Samarinda, orang orang yang akan bepergian ke Samarinda tidak lagi menuju Handil dan kemudian menyisir Sungai Mahakam dengan tujuan Terminal Klotok Pasar Pagi Samarinda. Sejak Itu Jalan Rusia, berganti nama menjadi Jalan Poros Balikpapan – Samarinda Soekarno Hatta, sedangkan kawasan hutan belantara di sebut kawasan Bukit Soeharto, karena pada saat itu Presiden Soeharto, berkesempatan meninjau langsung kawasan Hutan Raya Bukit Soeharto, dari Balikpapan menuju tempat Peristirahatan di Kawasan Km 51.(*)