Poskaltim.id – Di balik kacamatanya, tersimpan binar ambisi yang melampaui batas cakrawala Samarinda. Lathifah Azmi, siswi kelas 12 SMAN 10 Samarinda, baru saja membuktikan bahwa jarak antara mimpi dan kenyataan hanyalah soal seberapa gigih seseorang mengetuk pintu peluang.
Di usianya yang baru 17 tahun, ia tak hanya membawa pulang satu, melainkan 11 Letter of Acceptance (LoA) dari universitas-universitas elite dunia.
Namun, daftar panjang kampus ternama mulai dari Monash University di Australia hingga Arizona State University di Amerika Serikat itu tidak jatuh begitu saja dari langit.
Perjalanan Lathifah sempat menemui kerikil tajam di rumah sendiri: keraguan orang tua. Melepas anak tunggal ke negeri orang tentu bukan perkara mudah bagi pasangan Muhamad Erwin dan Eva Farisah. Namun, dinding keraguan itu runtuh ketika program Sekolah Garuda Transformasi hadir di sekolahnya. Program ini menjadi jembatan informasi yang meyakinkan orang tuanya bahwa dunia internasional kini berada dalam jangkauan.
“Dari situ orang tua mulai luluh dan akhirnya mengizinkan saya kuliah ke luar negeri,” kenang alumni SMPIT Cordova ini dengan senyum lega.
Dari sebelas pintu yang terbuka, hati Lathifah tertambat pada satu bidang yang maskulin dan menantang: Aerospace Engineering atau Teknik Dirgantara. Ketertarikannya pada mesin dan aktivitas dinamis di luar ruangan menjadi mesin penggerak utama. Siapa sangka, kegemarannya menonton anime juga menjadi bumbu unik di sela-sela kesibukannya mengejar skor IELTS dan strategi pendaftaran kampus.
Baginya, menembus kampus impian seperti Pennsylvania State University (yang kini tengah dinantinya) adalah tentang konsistensi. Saat skor bahasa Inggrisnya belum mencapai target, ia tak memilih mundur. Ia justru memacu diri lebih kencang, membuktikan bahwa tantangan hanyalah cara semesta menguji kesungguhan.
Ada sisi teduh yang kontras dengan minat teknisnya yang tinggi. Lathifah adalah seorang penghafal Al-Qur’an. Kedisiplinannya menghafal kalam ilahi tampaknya berkelindan dengan ketajamannya dalam akademik. Hal ini membentuk karakter yang rendah hati namun berprinsip kuat.
Meski mimpinya setinggi angkasa, kakinya tetap berpijak di tanah air. Lathifah telah menyiapkan “rencana cadangan” di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) jika rencana luar negerinya menemui aral. Namun, visi besarnya tetap satu: kembali untuk Indonesia.
“Kesempatan ini bukan hanya untuk saya, tapi untuk bangsa. Ilmu yang kami dapatkan pasti akan kami kembalikan untuk Indonesia,” tegasnya penuh keyakinan.
Lathifah Azmi adalah potret generasi muda Kalimantan Timur yang tidak lagi minder bersaing di kancah global. Targetnya sudah jelas: menyelesaikan S1 lalu sesegera mungkin melanjutkan ke jenjang magister.
Kisah Lathifah mengingatkan kita bahwa keterbatasan informasi atau keraguan awal hanyalah fase. Dengan semangat “Garuda”, putri Samarinda ini siap terbang tinggi, membawa identitas santri dan penghafal Al-Qur’an menuju laboratorium-laboratorium kedirgantaraan dunia.
Daftar “Kunci Dunia” Lathifah Azmi:
-
Monash University – Bachelor of Engineering (Honours)
-
University of Western Australia – Automation and Robotics Engineering
-
Curtin University – Mechatronics & Mining Engineering
-
Arizona State University – Aerospace Engineering
-
University of British Columbia (UBC) – Bachelor of Arts
-
(Dan 6 kampus bergengsi lainnya di Amerika Serikat, Australia, serta Selandia Baru) (*/Sumber: kaltimprov.go.id)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan