Poskaltim.id, Samarinda — Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Kalimantan Timur bersama Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) melaksanakan program Riset Kolaborasi dan Inovasi Strategis bertajuk “Strategi Inovatif untuk Mengoptimalkan Investasi di Sektor Non-Migas: Pemetaan Peluang dan Tantangan Provinsi Kalimantan Timur.”
Riset ini diketuai oleh Dr. Prapdopo, S.E., M.Si, dengan anggota tim peneliti Surahman, M.M., Ph.D serta Riza Meidinata Anwar, S.Tr., M.Tr.M, dari Program Studi Administrasi Bisnis dan Manajemen Pemasaran Polnes.
Program riset strategis ini menjadi bagian dari dukungan akademik terhadap upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mempercepat transformasi ekonomi pasca-migas, memetakan potensi unggulan setiap daerah, dan menyiapkan strategi kebijakan sektor non-migas menuju 2030.
Fokus Riset: Mendorong Akselerasi Ekonomi Non-Migas
Dalam riset yang berlangsung sepanjang tahun 2025 ini, tim peneliti memetakan kinerja ekonomi Kaltim, potensi sektor unggulan kabupaten/kota, tantangan pembangunan, hingga strategi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, digital, dan berkelanjutan.
Ketua peneliti, Dr. Prapdopo, menjelaskan bahwa Kaltim menghadapi kebutuhan mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada sektor migas dan batubara yang dalam satu dekade terakhir sangat dipengaruhi volatilitas harga global.
“Kalimantan Timur memiliki peluang besar di sektor pertanian, perkebunan, industri kreatif, pariwisata, layanan digital, hingga energi terbarukan. Namun diperlukan peta jalan dan strategi inovatif untuk memastikan sektor ini tumbuh dan menjadi fondasi ekonomi masa depan,” jelasnya.
Temuan Awal Riset: Potensi Besar, Tantangan Struktural
Anggota tim peneliti, Surahman, M.M., Ph.D, menambahkan jika riset ini menyoroti setidaknya tujuh isu strategis pembangunan Kaltim: ketergantungan tinggi pada migas dan batubara, minimnya hilirisasi komoditas lokal, keterbatasan infrastruktur digital di hinterland, biaya logistik yang masih tinggi, serta rendahnya kesiapan UMKM untuk ekspor dan digitalisasi.
“Kaltim punya modal besar untuk menjadi pusat ekonomi hijau dan digital. Tetapi transisi ekonominya harus disiapkan dengan data komprehensif, strategi wilayah, dan investasi berbasis riset,” ujarnya.
Melalui survei lapangan di sepuluh kabupaten/kota, tim juga memetakan sektor prioritas di setiap wilayah-seperti pangan, perkebunan, agroforestry, jasa logistik, dan pariwisata-serta peluang pengembangan industri pengolahan yang memberi nilai tambah bagi daerah.
Manfaat Riset: Arah Kebijakan Hingga 2030
Hasil riset ini akan dimanfaatkan Brida Kaltim sebagai rujukan penyusunan arah kebijakan investasi daerah periode 2026–2030 serta penguatan klaster ekonomi non-migas yang terintegrasi dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Riza Meidinata Anwar, anggota tim peneliti, menyampaikan bahwa riset ini menghasilkan rekomendasi strategis berbasis data, meliputi:
- transformasi ekonomi hijau,
- percepatan digitalisasi UMKM dan layanan publik,
- penguatan rantai pasok pertanian dan pangan,
- pengembangan investasi berkelanjutan,
- hingga peta tematik sektor unggulan setiap kabupaten/kota.
“Hasil kajian ini dirancang untuk langsung dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai pedoman perencanaan jangka menengah, terutama dalam merespons peluang ekonomi IKN,” tegasnya.
Dukungan Brida Kaltim: Riset untuk Pembangunan Daerah
Kepala Brida Kaltim, melalui pernyataan resminya, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Polnes dalam penyusunan kajian komprehensif ini.
“Kolaborasi riset seperti ini adalah pondasi penting untuk memastikan pembangunan Kaltim berjalan berbasis data, terukur, dan relevan dengan tantangan masa depan,” ujarnya.
Hasil riset lengkap akan disampaikan dalam forum diseminasi dan dipublikasikan sebagai bagian dari laporan resmi Brida Kaltim tahun 2025.(*/adv)
PosKaltim.id Informatif dan Mencerdaskan